Air Mata di Taman Bunga 01

Merah pekat warna bunga. Ada tujuh matahari pagi
yang menghiasinya. Satu satu menghilang,
bersama embun yang menguap. Satu lagi menghias,
dari tetes air matamu. Tepat saat aku berdiri di sampingmu

Berlahan wajahmu menyambut tatapanku
Aku hanya mengedipkan mata lambat
Seuntai air kembali menetes di bunga itu,
saat lesung pipi menghias wajahmu
Telapak tangan kasarku berlahan membeku
dalam genggam jemarimu. Meski baru lalu
kuulurkan tangan, untuk mengerti bentuk rasa itu

Ada bola salju meluncur deras,
menghadirkan warna pekat dalam setiap ruang
yang dilewatinya. Tubuhku pun mengigil
Aku baru sadar, air mata itu
uap dari bola salju yang meluncur di bola matamu

Namun kulihat, tubuhmu tak menggigil seperti tubuhku
Betapa indah kamu menahan dingin di hidupmu
Betapa daya tahanku sama sekali rendah di hadapanmu
Aku hanya mengedipkan mata lambat

Berlahan kulepas genggam jemari
Ku satukan tubuh dalam dekapmu

Namun, lambat kau berbalik dan berjalan
Sutera putih melambai dihembus angin pagi
Dedaunan dan warna warni bunga menari sepi
Aku hanya diam merangkai harap, waktu
masih sisakan keindahan untuk kusapa di hari esok

Advertisement

~ by emenev on September 29, 2007.

One Response to “Air Mata di Taman Bunga 01”

  1. Aku menyapa semua pecinta puisi

    met Idul fitri Maa lahir bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.